Rabu, Juni 01, 2005

"Mengasihi Hingga Sakit, Memberi Hingga Tak Tersisa" - 3
Oleh : Lesminingtyas

Kurang lebih jam 03.30 anak-anak saya bangunkan. Setelah mandi dengan air panas yang saya siapkan, Dika menyiapkan sendiri sarapan pagi dan bekal makanan yang akan di bawa ke sekolah. Saya sendiri menyiapkan saparan untuk Mika dan bekal makan siang saya untuk di kantor nanti. Setelah selesai memandikan Mika saya segera bergegas pergi ke rumah sakit untuk melihat keadaan Uwa, sembari pergi ke kantor. Sebelum melangkah ke luar rumah, saya menelpon seorang tetangga yang akan menolong saya untuk menjaga Mika selama saya tinggal bekerja.

Pagi itu saya harus meninggalkan Mika dengan sarapannya. Walaupun saya tahu kalau Mika makan tanpa pengawasan selalu menggunakan tangan kirinya hingga makanan tumpah ke mana-mana mirip makanan ayam, tetapi tidak ada pilihan lain, karena saya tidak mungkin mengambil cuti dadakan. Hanya Dika yang masih bisa menemani Mika sambil menunggu mobil jemputan sekolahnya datang pada pukul 06.00 nanti. Sebenarnya saya dan para tetangga sudah berusaha merayu Mika untuk tinggal di rumah tetangga selama Dika sekolah, tetapi Mika selalu menjawab "Mika nggak mau..Mika sudah punya rumah sendiri". Itulah sebabnya beberapa tetangga bersepakat untuk menemani Mika di rumah secara bergiliran.

Jam 04.30 saya cepat-cepat pergi ke rumah sakit, supaya jam 05.30 saya bisa sampai di tempat pemberhentian bis jemputan langganan saya. Sayang sekali begitu sampai di rumah sakit banyak sekali tugas kemanusiaan yang harus saya lakukan. Selain mengganti baju Uwa yang kotor penuh darah yang sudah mengering, saya juga harus mengelap badan Uwa dengan air hangat yang disediakan oleh RS. Jijik sekali rasanya. Selain saya tak pernah membayangkan akan memandikan seorang pembantu, saya juga tidak siap menggunakan peralatan rumah sakit yang biasa dipakai beramai-ramai itu.

Hati saya sungguh tidak siap melihat sikap Uwa yang semakin sulit dimengerti. Rasanya sudah sewajarnya kalau Uwa berterima kasih setelah saya menelantarkan anak-anak demi mengurus Uwa. Saya sungguh tidak menyangka ketika Uwa marah-marah di depan belasan pasien yang lain ketika saya kurang tepat meletakkan pispot sehingga kencing Uwa sedikit tercecer. Walaupun perut saya sangat mual saat membuang kencing Uwa ke kamar mandi, namun Uwa masih saja menuntut lebih.

Karena Uwa sudah bisa saya dudukkan, saya mencoba melepas stagen dan kainpanjang yang dikenakannya. Ketika saya salah melilitkan kain panjang ketubuh Uwa, dengan arah terbaik dari yang seharusnya, Uwa kembali memarahisaya. Bahkan ketika saya jongkok membetulkan kain di bagian kaki Uwa, Uwamenggerakkan kakinya dengan kasar hampir mengenai muka saya. Hampir sajakesabaran saya habis. Ujung bibir saya hampir tak mampu menahan kalimat yangrasanya pantas untuk saya lontarkan "Emang lu siapa?"

Ingin rasanya saya mengembalikan Uwa pada posisi yang seharusnya, yaitusebagai pembantu. Namun, lagi-lagi saya teringat bahwa ini adalah ujian dariTuhan. Segala sesuatu Tuhan ijinkan terjadi pada diri saya, demi kebaikansaya sendiri. Hampir saja mengingatkan bahwa Uwa adalah pembantu dan sayaadalah majikan yang harus dihormatinya sehingga tidak ada kewajiban bagisaya untuk mengabdi kepadanya. Namun ketika kesombongan itu muncul,tiba-tiba saya merinding membayangkan jika saya tidak sepenuh hati melayaniUwa, jangan-jangan wajah Uwa tiba-tiba berubah menjadi wajah Tuhan Yesus.

Karena terlalu banyak permintaan Uwa, pagi itu saya tidak bisa cepat-cepat meninggalkan RS. Saya pun harus pergi ke kantor dengan kendaraan umum karena sudah ketinggalan bis jemputan. Sudah bisa diduga, kartu absent saya hari itu merah. Tidak main-main, karena 1 menit keterlambatan berarti bonus akhir tahun dipotong sepersekian persennya.

Selama di kantor, saya tidak tahu lagi apakah saya ini tidur sambil duduk atau duduk sambil tidur. Terpaksa saya harus doping dengan multi vitamin dan kopi susu supaya mata bisa diajak melek. Saya sengaja menyelesaikan bahan presentasi yang akan dibawa boss ke luar negeri, supaya waktu selebihnya bisa saya gunakan untuk mengerjakan tugas-tugas kesekretarisan yang agak ringan.

Rasanya makan siang hari itu tidak lagi bisa saya nikmati. Targetnya hanya memasukkan makanan ke dalam perut. Saking ngantuknya, waktu istirahat makan siang yang hanya 30 menit itu saya gunakan 10 menit untuk makan siang dan selebihnya saya pakai untuk tidur di sofa.

Sepulang kerja, sebenarnya saya ingin mampir ke RS seperti yang Uwa minta. Tapi perasaan saya tidak enak karena ingin segera melihat keadaan anak-anak di rumah. Begitu sampai di rumah, saya baru sadar bahwa paginya saya terlalu buru-buru pergi hingga lupa menyiapkan makanan siang untuk anak-anak. Untung saja tetangga yang menemani Mika berinisiatif memasakkan nasi dan menggoreng telor untuk anak-anak.

Malam itu saya tidak punya energi lagi untuk menyiapkan makan malam. Seperti biasanya kalau lagi malas masak, saya meminta Dika membeli japcay di depot mie bangka. Ketika saya menunggui anak-anak makan, saya tertidur di meja makan saking lelahnya. Rencana menjenguk Uwa ke RS malam itu pun batal. Resikonya, saat saya menjenguk ke RS nanti Uwa pasti tak henti-hentikan "menyanyikan" lagu wajib yang semuanya berisi kekecewaan dan kemarahan. Tapi apa hendak dikata, untuk mengontrol anak-anak cuci kaki dan gosok gigi saja, malam itu saya sudah tak sanggup.

Esok paginya, seperti biasa saya membuatkan sarapan untuk anak-anak. Untuk makan siang, saya hanya menyiapkan nasi putih karena saya yakin bapak datang dari kampung membawakan lauk buatan ibu seperti biasanya. Namun karena bapak pergi terburu-buru, dugaan saya kali itu meleset. Bapak yang tidak pernah menuntut dilayani itupun mengajak Dika memasak dari bahan-bahan mentah yang ada di kulkas.

Sore itu saya berencana pergi ke RS setelah mengurus anak-anak dan menyambut kedatangan bapak. Begitu selesai memandikan Mika, saya dan anak-anak menemani bapak minum teh di ruang tamu. Anak-anak saya biarkan "gelendotan" di badan mbah kakungnya, sementara saya merebahkan badan di sofa sambil mendengar kabar keluarga dan suasana di kampung dari bapak. Entah sampai mana saya mendengar cerita bapak, tapi tertidur pulas saat mendengar kisah seru yang bapak ceritakan, memang sudah biasa terjadi sejak saya kecil dulu. Bapak yang tahu kebiasaan buruk saya, memang sudah maklum. Terlebih lagi sore itu saya benar-benar lelah.

Kira-kira jam 20.30 saya dibangunkan Dika karena ada telepon dari RS. Masih setengah tertidur saya menggapai gagang telepon. Saya benar-benar kaget ketika perawat yang menelpon itu meminta saya untuk datang ke RS malam itu juga.
"Ada apa suster? Memangnya pasien dalam keadaan gawat?" tanya saya panik.
"Bukan Bu! Malam ini pasien memerlukan obat suntik yang harus ibu beli sendiri di apotik" jawab si penelpon. "Apakah tidak bisa dibelikan dulu oleh rumah sakit, terus nanti dimasukkan ke dalam tagihan" saya menawar. "Maaf Bu, untuk pasien kelas 3 tidak ada pelayanan semacam itu. Kalau keluarga Ibu dirawat di VVIP, kami bisa membantu. Untuk pasien kelas 3, keluarga pasien harus membeli obat sendiri" jawab si penelpon kurang bersahabat. "Bagaimana kalau misalnya saya datang besok pagi?" saya masih menawar.
"Maaf Bu, ini emergency. Dokter minta obat tersebut harus segera disuntikkan karena kondisi pasien sangat lemah dan HBnya tinggal 6 saja" kata sipenelpon dengan nada memerintah.
"Kalau begitu, bisa nggak obat tersebut cepat dibelikan dulu dan malam inijuga saya akan datang membayar semua harga obat" saya memohon kebijaksanaan.
"Maaf Bu, obatnya sangat mahal dan ibu harus membeli sendiri di apotik. Kami tidak bisa membantu" jawabnya singkat.

Begitu menutup telepon, badan saya rasanya makin loyo saja. Walaupun perjalanan ke RS cuma kira-kira 30 menit, rasanya saya menghadapi perjalanan yang panjang dan melelahkan. Sambil terdiam menahan segala rasa yang berkecamuk, saya mengambil jaket water proof di lemari gantung. Saya memang biasa mengenakan jaket tersebut sebagai pengganti payung supaya saya bisa bergerak lebih cepat dan lincah walaupun dalam keadaan hujan.

Ketika saya melewati teras di mana anak-anak dan mbah kakungnya sedang makan mie tek-tek, hati saya rasanya kelu sekali. Rasanya saya sudah terlalu banyak mengabaikan mereka hanya untuk mengurus Uwa di RS. Wajah saya yang lelah menahan tangis terbaca oleh bapak. "Lakukan segala sesuatu dengan suka cita. Kalau memang masih lelah, duduk-duduk sebentar sambil makan mie panas biar agak rileks" bapak berusaha menghibur. Saya hanya menggeleng.

Saya sudah berusaha menutupi kesesakan hati saya, tetapi akhirnya toh tidak berhasil menahan air mata. "Nggak usah nangis! Semua ini ujian dari Tuhan dan kamu harus setia menerima dan menjalaninya" bapak menasehati. "Apakah ujian-ujian yang selama ini belum cukup?" tanya saya lirih sambil menangis.
"Belum! Masih banyak yang harus kamu pelajari dalam hidup ini" jawab bapak.
"Dari semua anak bapak, tidak ada yang diuji Tuhan seberat saya. Saya ingat sekali, dulu waktu saya TK, saya tidak bisa bermain sebebas kakak-kakak yang lain. Waktu itu justru saya yang paling bontot yang harus melayani ibu buang air di pispot selama ibu sakit" kata saya sambil terisak, mengingat masa lalu di mana saya harus drop out dari TK.

"Dulu semua kakakmu kan sudah bersekolah, jadi cuma kamu yang masih TK yang bisa membolos" bapak meminta pengertian.
"Tapi, waktu lulus SMA dulu saya juga dikorbankan tidak bisa ikut bimbingan tes dan seleksi UMPTN karena harus merawat Pak Dhe. Kakak-kakak yang lebih disayang Pak Dhe saat sehat, justru bisa cuek" saya mencoba mengingat betapa berat ujian yang saya alami.
"Itulah ujian dari Tuhan, supaya kamu bisa belajar melayani orang yangsehari-harinya tidak menyayangimu" bapak terus berusaha menghibur.
"Sekarang ini saya benar-benar ibarat sudah jatuh tertimpa tangga juga. Badan saya rasanya sudah remuk, anak-anak tidak terurus, masih juga harus mengurus Uwa yang nggak tahu diri. Kakak yang dulu selalu disayang Uwa, tidak ada perhatian sama sekali. Semua masalah sekarang ditimpakan pada saya " saya memuntahkan kelelahan batin saya.
"Kamu nggak boleh bicara seperti itu, pandanglah semua itu sebagai ujian dari Tuhan untuk mengajar kamu supaya menjadi pribadi pengampun yang tegar dan tangguh. Karena kamu sudah melewati ujian-ujian yang belum pernah kakak-kakakmu alami, bapak justru merasa tenang dan lebih siap meninggalkan kamu kalau bapak dipanggil Tuhan nantinya. Kalau bapak meninggal, rasanya bapak tidak ragu lagi meninggalkan kamu yang lebih tangguh dari kakak-kakakmu. Nah, kamu seharusnya mensyukuri ujian-ujian berat itu sebagai berkat Tuhan" bapak berusaha membesarkan hati saya.

Setelah sedikit lega, saya menitipkan anak-anak pada bapak. Tak menunggu waktu lagi, saya bergegas ke rumah sakit. Malam itu saya menembus gelapnya malam yang diselimuti gerimis dan kabut tipis.

Sesampainya di RS saya langsung menuju ke ruang perawat untuk mengambil resep yang ditinggalkan dokter. Tak menunggu lama, begitu kertas resep itu di tangan, saya melangkah secepat kilat menuju apotik yang berjarak kurang lebih 100 meter dari kamar perawatan. Saya duduk di kursi tunggu sambil melepas kepenatan yang hampir tak berujung. Saya kaget setengah mati ketika petugas apotik menyebutkan sejumlah rupiah yang harus saya bayar. Jantung saya hampir copot karena malam itu saya harus kembali menguras habis seluruh isi dompet saya.

Sebenarnya begitu obat sudah ditebus, saya ingin sekali segera meninggalkan lingkungan yang memuakkan itu. Saya benar-benar malas menengok Uwa. Tapi apa daya, saya tidak punya ongkos untuk pulang ke rumah. Tidak ada pilihan lain selain menjenguk Uwa di kamar perawatan sekaligus meminjam uang untuk ongkos pulang. Saya tahu persis Uwa pasti punya simpanan uang di stagennya.

Sudah bisa diduga, saya kembali kena damprat Uwa, gara-gara datang terlalu malam. Omelan Uwa kali ini cukup keras hingga didengar oleh semua pasien dibarak itu. Dengan gaya memerintah, Uwa menyuruh saya mengambil pispot danmelayaninya untuk buang air kecil. Dengan gaya "setengah budek" sayamelayani Uwa tanpa berucap sedikitpun."Kalau saja ada kenalan di sekitar rumah sakit, malam ini saya nggak perlumeminjam uang Uwa dan kena semprot gaya majikan tuwa itu" pikir saya dalamhati.

Saya tidak tahu apa yang diceritakan Uwa kepada sesama pasien dan orang-orang yang menunggu di bangsal itu. Namun, kepergian saya malam itu diiringi dengan tatapan sinis dan komentar tak mengenakkan. Seorang ibu jutek dengan logat Sundanya yang kental menyindir saya sebagai anak durhaka yang tidak memperlakukan orang tuanya dengan baik. Walaupun sedikit gondok, saya masih berusaha melangkah dengan kepala tegak. "Ya, justru karena saya bukan anak durhaka, malam ini saya harus pulang untuk mengurus orang tua saya sendiri, yang sejak kedatangannya jauh-jauh dari kampung tidak saya sambut sebagaimana mestinya" kata saya dalam hati.

-bersambung-

Selasa, Mei 31, 2005

"Mengasihi Hingga Sakit, Memberi Hingga Tak Tersisa" - 2
Oleh : Lesminingtyas

Hati saya mulai lega ketika Uwa sudah ditangani dokter. Namun rasa lega itu mulai surut ketika dokter jaga yang super jutek itu memanggil saya dan bertanya. "Situ anaknya, ya?" Belum sempat saya menjawab, dokter itu kembali menunjukkan kejutekannya "Kenapa ibunya ditinggalkan sendiri? Jagain dong! Pegangin tuh tampon dihidungnya!" kata dokter itu sambil menyerahkan beberapa gulung tampon dengan kasar "Di sini banyak pasien sedangkan dokter cuma satu, jadi yang seperti ini harus dilakukan oleh keluarga pasien sendiri!" sambungnya ketus. "Apakah tidak ada cara lain untuk menghentikan pendarahannya, Dok?" tanya saya pelan."Mau dengan cara apa? Menghentikan pendarahan orang yang sudah terlalu tua dan hipertensi seperti ini? Sangat sulit ! Tunggu saja sampai berhenti dengan sendirinya !" jawabnya tak ramah. "Berapa tensinya sekarang dok? Kemarin 180/110" saya ingin tahu. "Pembuluh darahnya pecah karena hipertensi. Sekarang tensinya 140/90" jawab dokter tanpa memalingkan wajah ke arah saya.

Walaupun sudah 1 jam di rumah sakit, hidung Uwa masih terus memancarkan darah. Karena posisi Uwa benar-benar telentang, darahnya mulai keluar dari mulut dan mengalir ke mana-mana. Sarung kesayangan Dika sudah tidak berwarna lagi, dan berubah menjadi hitam pekat oleh darah. Saya pun membuang sarung itu ke tong sampah. Karena sudah tidak ada lagi kain untuk mengelapnya, saya melepas baju hangat Uwa.

Setengah jam kemudian Uwa sadar. Pertama kali yang ditanyakan Uwa ketika sadar adalah baju hangat kesayangannya. Karena sudah basah kuyup dengan darah yang beraroma anyir, saya pun meminta ijin Uwa untuk membuang menyusul sarung Dika di tong sampah. Dalam keadaan tidak berdaya, Uwa masih saja marah. Supaya tidak terdengar oleh pasien-pasien lain di UGD, saya pun berbisik "Sudah lah, besok saya belikan lagi baju hangat yang kayak gitu empat sekaligus!"

Walaupun Uwa ngedumel nggak karuan, tangan kiri saya masih memegangi tampon, sementara tangan kanan terus mengelap darah Uwa yang "ngacai" dari mulutnya. "Tuhan, mengapa Engkau uji saya seberat ini?" keluh saya.

Ketika mata saya melirik, mendapati bahwa jam di ruang UGD telah menunjukkan pukul 22.00. Saya panik sekali memikirkan anak-anak saya yang belum makan dan berada di rumah tanpa pengawasan orang dewasa. Saya takut anak-anak menyalakan kompor sendiri untuk membuat makanan gara-gara kelaparan. Saya juga kuatir anak-anak lupa mengunci pintu dan jendela. Banyak sekali kekuatiran saya akan keadaan anak-anak di rumah. Terlebih angka kejahatan di Bogor cukup tinggi.

Saat juru rawat melintas di dekat saya, saya pun meminta bantuan untuk mengurus Uwa karena saya akan menelpon ke rumah. Saya segera lari ke luar. Sebelum menelpon anak-anak, saya berusaha meminta kesabaran tukang ojek untuk tetap menemani saya. Tukang ojek itu pun tampaknya mengerti kekalutan saya. Sambil membersihkan sisa-sisa darah yang mengering di baju, saya mencoba menelpon ke rumah. Lama sekali telepon tidak diangkat. Rasanya ingin sekali saya terbang ke rumah supaya tahu apa yang terjadi.

Kurang lebih satu menit telepon di rumah baru diangkat. "Halo, ibu ya? Ibu kok nggak pulang-pulang...cari duit sampai malam ya?!" tanya Mika yang merasa yakin kalau yang menelpon itu saya. Tanpa menjawab pertanyaan Mika, saya langsung memberi instruksi kepada Mika "Dik, tolong teleponnya kasih Mas Dika!" Dengan setengah cedal Mika menjawab "Mas Dika udah tidul" "Bangunkan Mas Dika, bilang ada telepon dari ibu!" perintah saya kepada Mika yang umurnya baru 3 tahun."Ya, ya, ya.dadah ibu!" jawab Mika langsung menutup telepon.

Saya kembali mencoba menelpon berkali-kali, tapi tidak ada yang mengakat. Saya menduga Mika sedang berusaha membangunkan Dika yang memang agak susah dibangunkan. Kira-kira 3 menit saya mencoba menelepon, akhirnya Dika pun mengangkat telepon. "Ibu kok lama sekali sih? Dika sama adik sudah kepalaran, tapi ibu nggak pulang-pulang. Tadi waktu ibu pergi adik nangis terus, sampai muntah. Dika repot banget nich ngurusin adik. Ibu sekarang dimana sih?" tanya Dika dengan nada kesal. "Dika, ibu masih di rumah sakit. Sekarang pintu dan jendelanyadi.....(tit!)" belum sempat memberikan pesan, telepon saya mati karena baterainya habis.

Melihat saya mondar-mandir mencari telepon umum, tukang ojek itu meminjamkan ponselnya kepada saya. Begitu telepon tersambung, tanpa membuang waktu saya berpesan "Dika, makan seadanya dulu. Semua pintu dan jendela..(tit)!" ponsel si tukang ojek itu pun nasibnya sama dengan ponsel saya. Saat itu saya benar-benar tidak bisa menahan tangis. Saya benar-benar mengkuatirkan keadaan anak-anak di rumah. Saya ingin sekali untuk segera pulang ke rumah, tetapi dokter belum mengijinkan saya pergi.

Ketika saya masuk ke UGD lagi, darah Uwa sudah tidak terlalu deras. Jururawat menyuntikkan beberapa macam obat melalui selang infuse. Uwa juga sudahbisa memegangi sendiri tampon di hidungnya. Beberapa menit kemudian saya dipanggil oleh kasir untuk membayar biaya tindakan dan obat-obatan. Karena saya tidak membawa uang tunai, saya meminta tukang ojek untuk menunggui Uwa,sementara saya mengambil uang di ATM.

Malam itu saya berjalan keluar dari komplek RS sambil menangis. Saya menangis untuk banyak hal. Selain mengkuatirkan keadaan anak-anak di rumah, juga mengkuatirkan keadaan Uwa di rumah sakit. Ditambah lagi, saya yang terbiasa mengelola gaji dengan perencanaan yang ketat, rasanya cukup dipusingkan dengan pengeluaran besar yang tidak ada dalam rencana ERT (Ekonomi Rumah Tangga) saya. Kalau saya mengambil uang gaji di ATM BNI, pasti kehidupan kami selama sebulan serta tagihan rumah, telepon, listrik, asuransi pendidikan dan tabungan kesehatan anak-anak pasti kacau balau. Kalau saya mengambil tabungan pendidikan di ATM Lippo, saya kuatir proses kelanjutan sekolah Dika ke SMP terganggu. Akhirnya malam itu saya putuskan menguras semua tabungan kesehatan anak-anak dari ATM BCA. Saya pun naik becak menembus gelapnya malam kota Bogor menuju ATM BCA yang jaraknya kurang lebih 500 meter dari RS.

Setelah saya menyelesaikan pembayaran di kasir, juru rawat memanggil saya untuk mendatangani persetujuan rawat inap untuk Uwa. Karena juru rawat itu tahu kalau Uwa adalah pembantu saya, ia pun menyarankan saya untuk memilih kamar kelas 3 saja. Saya pun tidak mampu berpikir lagi kecuali mengiyakannya dan berbisik "Tolong ya Mas, usahakan semua urusan malam ini cepat selesai, karena saya harus segera pulang. Anak-anak saya yang masih kecil, sekarang ini di rumah sendirian". "Ibu telpon tetangga dulu untuk minta tolong mereka menjaga anak-anak ibu" juru rawat yang ramah itu menyarankan. "Boro-boro nelpon tetangga Mas, mau nelpon anak sendiri saja tidak bisa karena baterainya habis" jawab saya masih tegang.

Supaya cepat selesai, saya membantu juru rawat itu membawa berkas status pasien dan mendorong kereta dorong ke kamar perawatan di kelas 3, sementara juru rawat menarik kereta itu. Saya kaget ketika tiba-tiba juru rawat menarik kereta pasien masuk ke ruang isolasi. Saya pun deg-degan dan dengan reflek bertanya "Lho, lho, lho! Mas, memangnya penyakit ini menular, kok sampai harus diisolasi?" "Bukan karena menular Bu, tapi kalau pasien ini dicampur dengan pasien lain, dikuatirkan yang lain pada takut atau jijik" jawab juru rawat itu." "Tapi kan kasihan Mas, ibu ini sudah tua sekali dan tidak ada yang menjaga. Kalau nanti terjadi sesuatu dan tidak ada orang yang melihatnya, bagaimana?" tanya saya sambil meminta belas kasihan.

Uwa yang sudah dibaringkan di ruang isolasi kembali kami angkat ke kereta dorong untuk dipindahkan ke barak RPU supaya bisa sekamar bersama belasan pasien lain. Ketika Uwa sudah berada di barak pasien, saya pun berpamitan kepada juru rawat sambil menitipkan Uwa. Tiga juru rawat yang bertugas malam itu dengan kompak memarahi saya. Saya pun berusaha merendah dan memohon pengertian para perawat itu. "Maaf Suster, saya tidak mungkin menungguinya di rumah sakit. Saya juga butuh ganti baju dan mengambilkan baju ganti untuk pasien!" saya memberikan alasan. "Gila ! Ibu ini nggak punya otak, kali ya? Masak tega meninggalkan ibunya yang sudah berumur 67 tahun sendirian di rumah sakit" kata salah satu jururawat.

Sebenarnya saya ingin menjawab "Justru karena saya punya otak, saya harus pulang untuk mengurus anak-anak saya" Namun karena saya tidak ingin berdebat, sayapun menjawab dengan halus "Maaf Suster, saat ini anak-anaksaya di rumah tidak ada yang menjaga. Saya meninggalkan anak yang berumur 3 tahun hanya bersama kakaknya yang masih kecil juga! Tolonglah Bu, mohon pengertiannya. Saya akan bertanggung jawab semua biaya pengobatan untuk pasien, tapi saya tidak mungkin ditahan disini. Besok pagi sebelum saya berangkat kerja, saya akan ke sini mengantar baju ganti untuk pasien"

"Memangnya suami ibu kemana? Ibu nggak punya suami ya?" tanya seorang perawat ketus. Ingin sekali saya menjawab "It is not your business!". Namun belum sempat saya menjawab, seorang perawat dengan sinis berkata "Kalau ibu nggak mau mengurus sendiri, sebaiknya pindahkan pasien ke ruang VVIP yang mahal, jangan cuma di kelas 3 yang murah-murah seperti ini dong!"

Sedetik kemudian perawat dari UGD itu mengedip-ngedipkan matanya memberi isyarat kepada saya. Saya menterjemahkan isyarat tersebut dengan "uang". Tanpa menunggu lagi, saya pun menarik beberapa lembar uang lima puluh ribuan dari dompet. Juru rawat UGD itupun menganggukkan kepala tanda setuju. Tanpa banyak bicara, saya pun meletakkan beberapa lembar uang itu di meja yang ada di depan ketiga perawat yang beramai-ramai "mengadili saya".

"Ibu, bukan kami tidak mau mengurus pasien Bu, tapi kalau tidak ada keluarga yang menunggu, siapa yang harus bertanggung jawab kalau pasien meninggal?" kata seorang perawat yang mulai lembut.
"Ya, kalau memang Tuhan menghendaki pasien itu meninggal, kita mau apalagi?" jawab saya pelan.
"Benar nich, kalau ada apa-apa sehingga pasien meninggal, Ibu tidak menyalahkan atau menuntut kami?" tanya perawat yang lain tak kalah lembutnya.
"Kalau Tuhan yang memanggil, kenapa saya harus protes?!" jawab saya pelan "Malam ini saya mohon bantuan Suster di sini, karena saya harus pulang. Besok pagi saya akan ke sini membawakan baju-baju yang bersih untuk pasien. Kalau malam ini ada apa-apa atau butuh sesuatu, Suster bisa menelpon saya kapan saja" saya menjamin. "Jadi, kalau nanti kami telpon malam-malam, ibu tetap bersedia datang ke mari khan?!" tanya perawat lainnya dengan sopan. "Saya janji Suster! Paling tidak, kalau saya sudah sampai di rumah, saya bisa menitipkan anak-anak dulu ke tetangga" jawab saya pelan.

Sebelum saya meninggalkan RS, suster di kamar perawatan meminta saya untuk menebus obat yang harganya hampir satu juta rupiah. Saya pun kembali mengeluarkan uang lebih dari yang seharusnya dan menyerahkan kepada perawat yang mau membantu saya membelikan obat untuk Uwa di apotik. Saya melakukan hal itu karena bagi saya waktu sangat penting untuk segera tahu keadaan anak-anak.

Akhirnya jam 22.30 saya bisa meninggalkan rumah sakit. Saya pun bersama tukang ojek segera naik angkot menuju klinik 24 jam dimana motor milik tukang ojek itu dititipkan. Dari klinik 24 jam itu saya diantar ke rumah oleh tukang ojek.

Betapa kagetnya saya ketika saya mendapati pintu pagar dan pintu rumah terbuka lebar. Saya minta tolong tukang ojek untuk menemani saya sampai diteras. Jantung saya berdebar-debar ketika tak satupun anak saya yang menyahut panggilan saya. Saya hampir berteriak ketika mendapati Mika yang tertidur di karpet tak jauh dari muntahannya. Dika sendiri tertidur dilantai. Ketika saya yakin tidak terjadi sesuatu pada anak-anak saya, sayapun memberikan uang kepada tukang ojek sebagai ganti penghasilannya malam itu.Sambil memanasi air untuk mandi, saya mengelap muka dan kaki anak-anak dan memindahkan mereka ke kamar masing-masing. Melihat wajah anak-anak yang tidak berdaya, saya merasa sangat bersalah karena telah menelantarkan mereka. Saya pikir kalau sampai terjadi sesuatu pada mereka, saya tidak bisa mengampuni saya sendiri. Malam itu saya menangis, menyesali diri karena tidak bisa menjaga mereka dengan baik. Terlebih lagi ketika melihat sisa mie instant yang Dika rebus tidak sempurna dengan rantang, hati saya sangat miris membayangkan betapa mereka sangat kelaparan menunggu saya yang tidak segera pulang malam itu.

Ketika air sudah panas, saya pun membuka baju untuk mandi. Saya kaget sekali ternyata baju yang saya kenakan malam itu adalah baju putih terbaru yang saya beli dengan harga cukup mahal. Saya pun harus merelakan baju kesayangan yang baru dua kali saya pakai itu tidak seputih dulu lagi. Saya yang biasanya merawat dan mencuci baju kesayangan dengan tangan saya sendiri, mau tidak mau harus merelakan baju tersebut di cuci oleh pembantu/tukang cuci karena saya tidak tahan dengan bau anyir yang menyengat.

Sampai tengah malam saya tidak bisa tidur. Di satu sisi saya masih terus merasa bersalah karena telah menelantarkan anak-anak. Di sisi lain saya juga menyesal karena saya merasa tidak bisa memperlakukan Uwa dengan kasih. Saya sangat menyesal karena selama menyangga tubuh Uwa di angkot, hati saya tidak merelakan 100% Uwa bersandar di dada saya. Selama di angkot saya masih merasa jijik dan bersikap seperti robot yang harus menjalankan tugas kemanusiaan. Apa yang saya lakukan terhadap Uwa sesungguhnya bukan kasih yang keluar dari hati yang paling dalam. Saya hanya memperlalukan Uwa masih sebatas memperlakukannya sebagai pembantu, bukan selayaknya saya melayani Tuhan.

Saya menangis karena kuatir kalau-kalau Uwa meninggal dan saya belum sempat menebus kesalahan dengan memperlakukannya seperti yang Tuhan Yesus kehendaki. Di tengah-tengah kegalauan hati saya, tiba-tiba telepon berdering. Badan saya lemas sekali. Sebelum sampai di meja telepon, saya terjatuh. Tangis saya kontan meledak "Tuhan Yesus, tolong saya ! Jangan panggil Uwa sekarang karena saya belum memperlakukannya seperti yang Engkau kehendaki !" teriak saya yang yakin bahwa telepon itu dari RS.

"Hallo" kata saya sambil menangis. "Jangan nangis, besok pagi bapak berangkat ke Bogor. Tolong kamu cari orang yang bisa dibayar untuk mengurus Uwa karena tidak ada satu pun anaknya yang mau mengurus Uwa" kata bapak saya. "Iya, ya, ya ! Bapak cepat ke sini ya, anak-anak terlantar nich" kata saya gugup karena saking takutnya.

Semalaman saya tidak bisa tidur karena bingung membagi waktu untuk esok paginya. Saya juga bingung karena esoknya saya harus menyelesaikan bahan presentasi yang akan dibawa boss ke luar negeri. Saya juga bingung bagaimana harus menjaga Mika sampai pembantu yang satunya datang jam 12.00, sedangkan Uwa memerlukan baju bersih dan selimut secepatnya. Malam itu saya benar-benar kalut dan menangis di depan komputer sambil curhat dan minta dukungan doa dari beberapa teman milis. Sebelum mematikan komputer, saya pun berdoa "Tuhan Yesus, ampuni kesalahan saya hari ini. Saya tidak tahu berapa lama lagi Engkau uji saya, tapi saya percaya Engkau sendiri yang akan memampukan saya melewati ujian-ujian itu"

-bersambung-

Senin, Mei 30, 2005

"Mengasihi Hingga Sakit, Memberi Hingga Tak Tersisa"

catatan gue : Sharing ini gue dapet dari salah satu milis : Komunitas Penjunan yg g ikutin, ditulis oleh Mundhi Sabda Lesminingtyas (mbak Ning), seorang penulis yg juga bekerja di sebuah lembaga yang membela dan memperjuangkan hak-hak anak (tulisannya pernah beredar luas dikalangan miliser dalam rangka hari Anak Nasional). Blio jg penulis buku "TANGAN YANG MENENUN" yang mengisahkan perjuangan orang tua tunggal dalam mengajar anak tentang kasih dan takut akan Tuhan.Tulisan blio amat menggugah hati g krn saat ini juga g berada dalam sikon yg meskipun ngga sama persis tp ada mirip2nyalahh...ketika g belajar memberi sambil sekaligus meluruhkan segala keegoan g yg ternyata lebih gampang diucapin drpd dijalani...,ketika g dalam hati dpt katakan tanpa nolongin dia pun hidup g teteub bakal baek-baek aja....Kiranya sharing ini jg menjadi berkat sekaligus inspirasi buat yg kebetulan nengokin rumah g ini...happy reading...Image hosted by Photobucket.com

Mengasihi Hingga Sakit, Memberi Hingga Tak Tersisa - 1

Oleh : Lesminingtyas*

Beberapa minggu yang lalu hidup saya dibuat pontang-panting oleh Uwa; pembantu yang mengasuh si bungsu Mika. Nenek tua itu kembali sakit. Saya pun membawa Uwa ke dokter praktek yang berjarak kurang lebih 50 meter dari rumah. Menurut dokter, tekanan darah Uwa cukup tinggi, yaitu 180/110. Namun saya cukup tenang karena dokter berjanji akan memberikan obat penurun tekanan darah.

Sehari setelah berobat ke dokter, kondisi Uwa justru semakin memburuk. Sorenya, sepulang saya dari kantor, Uwa mengeluh pusing. Saya pun segera memapahnya untuk kembali ke dokter. Belum juga keluar pintu rumah, hidung Uwa mengeluarkan darah segar. Saya pun tetap memapah Uwa menuju tempat praktek dokter. Walaupun tempat praktek dokter tidak terlalu jauh, namun badan Uwa yang lebih tinggi dan lebih besar yang menyandar tak seimbang kebadan saya, membuat langkah kaki saya terseok-seok.

"Ternyata memang sangat berat jika 'pasak' lebih besar dari pada tiang" pikir saya dalam hati. Sebagian berat badan Uwa yang ditimpakan ke pundak kiri saya, membuat tangan kiri serasa lumpuh. Sampai-sampai pundak dan dada kiri saya dibanjiri darah segar pun, saya tidak merasakan apa-apa lagi. Hanya bau anyir yang menyengat yang membuat saya tidak nyaman. Sebenarnya saya sangat jijik dengan darah, tetapi malam itu tidak ada pilihan lain.

Saya mulai cemas ketika ruang praktek dokter itu gelap gulita. Dari papan nama dokter saya tahu bahwa praktek tersebut baru dibuka jam 20.00. Melihat darah yang mengucur deras dan kondisi badan Uwa yang sangat lemah, saya tidak yakin Uwa bisa bertahan kalau harus menunggu 2 jam lagi. Dengan tertatih-tatih, saya memapah Uwa kembali ke rumah dan mendudukkannya dikursi teras.

Untuk memberikan pertolongan pertama, saya mencoba menundukkan kepala Uwa dan menyiramnya dengan air kran. Seperti biasa, Uwa marah-marah karena kedinginan. Saya pun mencoba dengan cara lain. Pontang-panting, saya berlarike sana ke mari bak orang kesurupan untuk mencari daun sirih. Sayang sekali tak seorang tetanggapun yang menanam sirih. Tidak ada cara lain, kecuali membawa Uwa ke klinik. Namun untuk meminta bantuan tetangga rasanya tidak mungkin karena semua warga sedang menjalankan sholat maghrib.

Karena darah Uwa terus membanjiri teras, tidak ada pilihan lain selain lari ke perempatan jalan untuk memanggil ojek. Saya mencarter 2 ojek untuk membawa Uwa ke klinik 24 jam. Karena darah Uwa masih terus mengalir, tukang ojek meminta kain untuk menutup hidung Uwa. Tanpa pikir panjang, Dika langsung memberikan sarung kesayangannya.

Karena klinik 24 jam hanya berjarak kurang lebih 2 km, saya tidak menitipkan anak-anak kepada tetangga. Saya pikir Dika sudah cukup besar untuk menjaga adiknya barang 15-30 menit. Saya hanya berpesan kepada Dika untuk menemani adiknya dengan tenang selama saya pergi. Saya berjanji kepada anak-anak untuk segera pulang sambil membawa lauk untuk makan malam.Dokter di klinik 24 jam itu sangat sigap. Dalam hitungan detik, sarung tangan telah membalut kedua tangannya. Dokter itu siap memasukkan tampon kelubang hidung Uwa. Wajah dokter itu mulai tegang ketika satu tampon yang dimasukkannya langsung terdorong keluar oleh derasnya darah dari hidung Uwa. Dua tampon dicoba dimasukkan ke satu lubang hidung Uwa sekaligus, tapi masih mental juga. Tidak sampai 5 menit memberikan pertolongan, dokter itupun menyerah dan meminta saya untuk segera membawa Uwa ke rumah sakit besar.

Saya bingung sekaligus panik karena tidak ada satu orang dewasa pun di rumah yang menjaga anak-anak. Saya juga bingung dan merasa tidak mampu untuk membawa Uwa sendirian ke rumah sakit. Karena tukang ojek yang saya carter masih ada di situ, saya pun meminta salah satunya untuk menemani saya kerumah sakit besar. Saya dan dokter memapah Uwa ke pinggir jalan, sementara tukang ojek mencari angkot untuk dicarter ke rumah sakit. Karena saya tidak enak hati mengotori baju dokter saya menyangga seluruh berat badan Uwa yang sudah mulai lemas itu dengan bahu saya. Darah Uwa pun mulai mengalir sampai ke pakaian dalam saya. Jijik sekali rasanya.

Kira-kira 5 menit, tukang ojek itu kembali dengan angkot kosong yang siap mengantar kami ke rumah sakit. Dokter yang tidak mau saya bayar itu pun membantu saya mengangkat Uwa masuk ke dalam angkot.

Selama di perjalanan saya dan tukang ojek yang sebelumnya tidak saya kenal itu mengapit Uwa. Ketika sopir angkot menanyakan rumah sakit mana yang akan kami tuju, saya tidak segera menjawab. Sebaliknya, saya meminta pendapat sopir angkot dan tukang ojek untuk memilih rumah sakit. Sebenarnya rumah sakit langganan keluarga saya tidak terlalu jauh dari rumah, tetapi tarifnya tergolong mahal.

Sambil membiarkan keduanya berdiskusi, saya menelpon dan mengirim SMS ke semua kakak dan orang tua saya. Saya berharap mereka memberikan komitmen untuk membantu biaya, sehingga saya bisa memilih rumah sakit yang terdekat. Namun, hingga rumah sakit langganan saya terlewati, tidak ada seorang kakakpun yang menyatakan kesanggupanya untuk membantu pembiayaan Uwa.

Tangan kanan saya masih terus menyangga Uwa sedangkan tangan kiri sibuk mengirim SMS untuk mengabari anak-anak Uwa dan memintanya datang ke Bogor. Saya berharap setelah masuk rumah sakit, perawatan Uwa sudah menjadi tanggung jawab dokter dan anak-anaknya, sehingga saya tinggal memikirkan biayanya saja. Namun saya harus puas dengan jawaban anak-anak Uwa yang tidak bersedia datang dan menimpakan tanggung jawab seluruhnya kepada saya.

Saya berhenti memainkan ponsel ketika tukang ojek itu meminta saya memilih 2 alternatif rumah sakit pemerintah yang ditawarkannya. Rumah sakit pertama memang cukup murah, tetapi letaknya agak menjorok ke dalam sehingga untuk menengoknya saya harus berjalan kaki agak jauh. Supaya saya bisa menengok Uwa sepulang dari kantor, saya pun memilih rumah sakit kedua yang lebih mahal sedikit tetapi terletak persis di pinggir jalan. Walaupun saya sudah memutuskan rumah sakit yang akan kami tuju, tetapi perjalanan tidak bisa dipacu karena malam itu angkot masih memadati jalanan hingga kota kami layak disebut sebagai "kota angkot" . Saya mulai panik ketika nafas Uwa mulai tersendat-sendat. Saya kuatir kalau-kalau Uwa menghembuskan nafas di dalam angkot. Sambil tangan kiri menyangga kain sarung untuk menadahi darah Uwa yang terus mengalir, tangan kanan tetap menahan badan Uwa.

Rasa dan bau badan saya sudah tak karuan. Saya yang sore itu belum sempat mandi dan masih mengenakan baju kerja, benar-benar harus bermandi darah. Bau anyir dan rasa jijik mulai merata di sekujur tubuh saya. Melihat Uwa terkulai lemas, saya pun semakin panik. Jantung saya bergerak lima kali lebih cepat karena rasa takut yang amat sangat. Saya mencoba kembali mengambil ponsel dari saku celana saya yang sudah mulai basah oleh darah. "Pak, tolong cepat datang. Uwa kayaknya sudah nggak kuat !" saya menelpon bapak saya setengah merengek.

Ayah saya pun menjawab, "Mintalah pertolongan Tuhan! Bapak akan segera berangkat ke Bogor" bapak mencoba menenangkan saya. Bapak yang tahu betul bahwa saya tidak tahan mengahadapi orang mati, tidak mungkin tega membiarkan saya menghadapi Uwa sendirian. Saya mencoba berdoa sambil berharap bapak akan datang secepatnya "Tuhan, sekiranya Engkau ingin memanggil Uwa, panggilah! Tapi kalau masih boleh menawar, tolong terlebih dulu kirimkan satu saja penolong untuk saya !"

Melihat kondisi Uwa yang terus melemah dan jalanan yang masih macet,berkali-kali saya berbisik di telinganya "Uwa, minta kekuatan dari Tuhan Yesus, ya!" Kalau Uwa diam saja, tak bosan-bosan saya membisikinya berulang-ulang hingga Uwa menganggukkan kepala sambil mulutnya lirih menyebut nama Tuhan Yesus.

Begitu angkot yang kami tumpangi masuk ke halaman RS, tukang ojek itu meminta saya mendaftar ke UGD. Saya pun mengiyakannya dan langsung meloncat ke luar dan berlari menuju bagian pendaftaran UGD. Tukang ojek bersama sopir angkot mengangkat Uwa masuk UGD.

Sementara Uwa ditangani dokter dan juru rawat di UGD, saya membayar sewa angkot dan meminta tukang ojek untuk tetap tinggal menemani saya. Satu hal yang ada dalam pikiran saya, kalaupun Uwa meninggal, masih ada tukang ojek yang menemani saya mengurus jenazahnya.

Dalam keadaan panik, saya sempat kena marah petugas administrasi karena waktu ditanya umur dan nama suami Uwa, saya tidak tahu. Dengan sok kuasa ia menakut-nakuti saya "Kalau tidak ada suaminya, kita tidak bisa menolongnya?" "Maaf Bu, sejak kecil saya tidak tahu siapa suaminya. Memangnya kenapa harus ditanyakan suaminya?" tanya saya tak mengerti. "Kalau tidak ada suaminya, siapa yang akan bertanggung jawab?" katanya ketus. "O..jadi yang dibutuhkan bukan suaminya, tapi orang yang bertanggung jawab khan? Kalau cuma itu, saya akan berusaha untuk bertanggung jawab" jawab saya merendah.

Mungkin karena melihat saya yang hanya mengenakan sandal jepit dan celana panjang yang kelupaan masih saya gulung mirip orang kebanjiran, petugas administrasi itu mulai meragukan saya. Terlebih badan dan pakaian saya yang tak layak dan menebar aroma tak sedap. "Nih lihat, harus mbayar segini ! Apakah Teteh sanggup?" tanyanya ragu. Petugas itu semakin ragu ketika melihat dompet yang sudah saya kuras hingga ke receh-recehnya, tetap belum memenuhi sejumlah uang yang diminta. Saya minta ijin keluar sebentar untuk meminjam uang kepada tukang ojek itu. Akhirnya saya pun bisa memenuhi uang yang diminta itu setelah tukang ojek bersedia menguras seluruh isi dompetnya.

-bersambung-